Sudah Bertemu Sandi, Ratu Prabu Bangun LRT Rp 405 Triliun 2019

PT Ratu Prabu Energi Tbk (ARTI) berencana membangun LRT sepanjang 400 kilometer (km). Pembangunan LRT yang terbagi ke dalam tiga fase rencananya dimulai tahun depan.

Emiten berkode saham ARTI yang bergerak di investasi migas ini telah menghadap Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno, untuk membangun LRT tersebut dengan biaya Rp 405 triliun.

Presiden Direktur PT Ratu Prabu Energi Tbk (ARTI), B. Bur Maras, menjelaskan, rencana pembangunan LRT tersebut dimulai 2019. Saat ini, ia fokus menyelesaikan administrasi terkait pendanaan dari perbankan yang diakuinya tertarik membiayai proyek LRT itu.

Baca juga: Sandi Sebut Ratu Prabu Sudah 2 Tahun Lakukan Kajian LRT

“Tahun ini surat menyurat bank-bank, setahun setengah (kemudian) baru mulai konstruksi di 2019 kalau cepat. Kita usahakan setahun selesai administrasinya,” katanya saat berbincang dengan detikFinance di kantornya Gedung Ratu Prabu 1, Jakarta Selatan, Jumat (5/1/2018).

Baca juga: Ratu Prabu Mau Bangun LRT 400 Km, Nih Rute Lengkapnya

Ia menambahkan, pembangunan dilakukan bertahap yang terbagi ke dalam tiga fase. Kemungkinan fase I dilakukan pembangunan terlebih dahulu pada jalur yang lebih siap.

“Itu kan total tiga fase,” ujarnya.

Baca juga: Sandiaga Kagum dengan Bos Ratu Prabu yang Mau Bangun LRT

Bur Maras mengungkapkan, konsep LRT yang diajukannya serupa dengan LRT Jabodebek yang saat ini tengah dilakukan pembangunan.

“Sama (seperti LRT Jabodebek). Nanti dia bisa loncat ke sana (LRT Jabodebek) bisa deket ke sini,” tuturnya.

Pemuda Ditusuk Saat Nonton Konser Nella Kharisma di Semarang

Semarang – Seorang pria yang masih dalam pengaruh minuman keras menusuk salah satu penonton acara hiburan dangdut akhir tahun di PRPP Semarang. Pelaku langsung diamankan polisi dan korban dilarikan ke rumah sakit.

Peristiwa itu terjadi pada Kamis (28/12/2017) sekitar pukul 21.30 WIB. Saat itu artis dangdut Nella Kharisma sedang menghibur para penonton dalam rangkaian acara tahun baru yang digelar 4 hari berturut-turut di PRPP, tepatnya di panggung hiburan Tamansari.

Saat itu ada sedikit keributan di antara penonton, kemudian korban, yaitu Pudji Imam Nugroho (23), warga Tawang Rejosari, Tawangsari, Semarang, menyingkir ke pinggir menjauh dari keributan. Tapi Pudji malah diteriaki copet dan langsung dikeroyok massa.

Ketika itu pelaku, Ajik Budi Handoko (25), warga Jalan Unta Raya, Semarang, mengeluarkan pisau lipat dan menusuk dada Pudji. Personel Dalmas Sabhara Polrestabes Semarang, yang melakukan pengamanan, langsung mengejar pelaku dan menolong korban.

Kasat Sabhara Polrestabes Semarang, AKBP Bambang Yugo membenarkan peristiwa tersebut. Ia mengatakan anggotanya sudah langsung membekuk pelaku dan meminta keterangannya, sedangkan korban dibawa ke RS Colombia Asia.

“(Pelaku) mabuk minuman oplosan,” kata Bambang Yugo saat dimintai konfirmasi melalui telepon, Jumat (29/12) dini hari.

Dari keterangan sementara pelaku, ia melakukan penusukan di dada korban karena, ketika keributan terjadi, adiknya dipukuli dan ia langsung balas dendam.

“Pelaku menusuk salah satu penonton menggunakan pisau lipat,” tandas Yugo

Saat ini pelaku masih berada di Mapolsek Semarang Barat untuk dimintai keterangan. Sedangkan korban masih dalam perawatan karena mengalami luka tusuk cukup dalam di dada.

Yugo menambahkan, dalam peristiwa tersebut, ada korban lain yang mengalami luka di kepala bagian kiri dan dibawa ke rumah sakit. Korban bernama Ferry Irawan (18) itu terkena paving block ketika keributan terjadi.

“Kepalanya kena paving, terjatuh karena terpojok menghindari dikeroyok,” ujarnya.

Deddy-Dedi Sepakat Berduet di Pilgub Jabar, Ridwan Kamil Gembira

Deddy Mizwar dan Dedi Mulyadi sepakat maju di Pilgub Jabar 2018 dengan posisi Deddy sebagai bakal cagub dan Dedi bakal cawagub. Bakal cagub lainnya, yaitu Ridwan Kamil, mengaku senang atas kabar tersebut.

“Ya kita ikut gembira. Ikut berbahagia terhadap apa pun yang berhasil mendapat koalisi dan kombinasi pasangan,” ujar pria yang akrab disapa Emil itu, Kamis (28/12/2017).

Emil mengatakan semakin banyak pasangan di Pilgub Jabar nanti akan kian banyak pilihan bagi warga untuk memilih. “Tentunya itu lebih baik buat demokrasi,” katanya.

Sebagai calon rival, Emil mengaku pasangan Deddy-Dedi bukanlah pesaing berat. Sebab, dia menilai semua pasangan memiliki kesempatan yang sama dalam kontestasi dalam Pilgub Jabar 2018.

“Saya asumsikan persaingan itu tidak mudah. Supaya kita berikhtiar terus, tidak takabur. Jadi survei bagus pun sekadar jadi referensi saja, bukan menjadi ukuran utama,” sebut pria berkacamata itu.

Kabar duet Deddy-Dedi yang sepakat soal posisi bakal cagub dan bakal cawagub dikonfirmasi Partai Demokrat melalui Ketua Dewan Kehormatan Amir Syamsuddin. Sebelumnya, Deddy Mizwar juga mengatakan sudah ada kesepakatan dengan Dedi Mulyadi soal pengusungan di Pilgub Jabar.

“Ya seperti itulah,” ujar Amir saat menjawab pertanyaan apakah Deddy Mizwar telah ditetapkan sebagai bakal cagub Jawa Barat 2018.

Jenderal Ikut Pilkada Karena Karir Terancam Mentok

Nama sejumlah pejabat militer dan kepolisian bakal ikut meramaikan Pilkada serentak 2018. Beberapa dari mereka belum paripurna bertugas namun sudah menanggalkan seragamnya sejak dini demi politik. Partai politik-pun menyambutnya karena gagal membentuk kandidat dari kadernya sendiri.

Ketua Pusat Studi Politik dan Keamanan Universitas Padjajaran, Dr Muradi mengungkapkan faktor pendorong utama tentara dan polisi aktif maju dalam kancah politik adalah kepastian karier. Ia mencontohkan mantan Panglima Kostrad Letjen TNI Edy Rahmayadi yang memilih mundur karena merasa kariernya tidak bakal berkembang.

“Dia tinggal pensiun tahun depan, tetapi sepertinya susah untuk menduduki jabatan bintang 4 menjadi Kepala Staf AD (KSAD),” kata dia ketika dihubungi detik.com, Kamis (28/12/2017).

Edy mengajukan pensiun dini pada 5 Desember lalu untuk maju dalam pemilihan gubernur (Pilgub) Sumatera Utara. Ia diusung oleh koalisi Partai Gerindra, PKS, dan PAN.

Hal serupa juga dilakukan oleh Wakil Kepala Lembaga Pendidikan dan Latihan Polri, Irjen Anton Charliyan. Mantan Kepala Polda Jawa Barat (Jabar) itu berharap dicalonkan PDI Perjuangan untuk maju dalam Pilgub Jabar. Tapi karena belum resmi menjadi calon, Anton belum mengajukan pensiun dini. Kini ia tengah getol menjalin silaturahmi ke sejumlah pesantren dan ulama di Jabar.

Selain faktor kepastian karier, menurut Muradi, kehadiran para perwira aktif di ajang Pilkada juga didorong oleh keinginan mencari tantangan baru, eksistensi diri, memberikan kontribusi kepada masyarakat, dan tantangan kompetisi politik.

Namun keputusan untuk hengkang dari institusi asal ini berdampak buruk bagi TNI dan Polri. Pertama, psikologi kesetiaan korps terganggu karena langkah ini dinilai oportunis. Kedua, sisa pengaruh dalam korps disalahgunakan ketika kompetisi.

“Tetapi ada juga dampak baiknya, paling tidak ada ruang baru yang diisi,” jelas Muradi.

Pengamat Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Lili Romli, menganggap kehadiran polisi dan tentara sebagai calon kepala daerah sebagai kemunduran parpol dalam melakukan kaderisasi. Mereka tidak mampu mencetak kandidat dari kadernya sendiri sehingga selalu berharap figur dari luar, termasuk polisi dan TNI.

Cetak kandidat instan ini, kata dia, beresiko. Beberapa kepala daerah yang tidak memiliki kedekatan dengan partai pengusung seringkali beralih ke partai lainnya di tengah masa jabatan. Perseteruan antara parpol dan kepala daerah-pun lantas terjadi.

“Parpol tidak melaksanakan kaderisasi sehingga dalam rangka pencalonan mencari figur yang populer dan siap, atau punya sumber daya ekonomi. Jalan pintasnya mencari figur di luar kadernya,” ungkapnya.

Menurutnya perilaku instan ini juga menjadi pangkal politik pragmatis politik uang. Kabar soal setoran uang untuk pengusungan sering terdengar menjelang pencalonan.